Tarunaglobalnews.com Bandar Huluan — Nasib objek wisata legendaris Pemandian Alam Sweembath kini berada di ujung tanduk. Destinasi bersejarah peninggalan era kolonial Belanda ini mendadak sepi bak kota mati akibat pemasangan portal pembatas jalan di Simpang Mangga yang menutup akses bus pariwisata.
Kondisi memprihatinkan ini memicu reaksi keras dari Irwansyah Putra, S.Pd., tokoh pemuda sekaligus Ketua Karang Taruna Kecamatan Bandar Huluan. Ia turun langsung ke lokasi setelah menerima keluhan dari pengelola yang kian terjepit.
Suherdi, pengelola Sweembath, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Hari Minggu yang seharusnya menjadi puncak keramaian, kini justru sunyi.
"Bus pariwisata tidak bisa masuk. Sudah ada dua bus yang terpaksa putar balik karena portal itu. Kami mohon bantuan agar pengunjung bisa ramai kembali seperti dulu," tutur Suherdi penuh harap di hadapan Irwansyah, Minggu (26/04/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan pemandangan kontras dari biasanya, Area parkir yang biasanya sesak oleh bus, kini melonggang, Loket tiket yang biasanya antre panjang, tampak sepi, Kolam pemandian yang biasanya dipenuhi rombongan keluarga, kini kehilangan keriuhannya.
Irwansyah Putra menyayangkan kebijakan pemasangan portal yang dianggap tidak solutif dan diskriminatif. Ia menyoroti janji pemerintah yang tak kunjung ditepati.
"Pada 24 Oktober 2025, portal sempat dibuka dengan janji akan dipindahkan ke Dolok Merangir agar adil bagi semua jalur. Tapi faktanya? Janji itu menguap begitu saja," tegas Irwansyah.
Ia juga mempertanyakan standar ganda dalam penerapan aturan ini. Menurutnya, ada kesan tebang pilih yang merugikan sektor wisata lokal.
Mengapa hanya akses menuju Sweembath yang dijepit portal, sementara jalur lain yang kerap dilalui kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) dibiarkan bebas melintas?
Rencana portal di Nagori Laras bisa dibatalkan karena penolakan warga, namun di Simpang Mangga tetap dipaksakan meski mematikan ekonomi wisata.
Sebagai aktivis pembangunan, Irwansyah meminta Dishub Simalungun bertindak lebih cerdas. Menindak kendaraan ODOL adalah keharusan, namun mengorbankan akses wisata sejarah adalah sebuah kesalahan besar.
"Jangan sampai kebijakan ini mematikan warisan leluhur kita. Sweembath bukan sekadar tempat mandi, ini adalah identitas sejarah Bandar Huluan," pungkasnya. (Ir)


0 Komentar