Breaking News

6/recent/ticker-posts

Bedah Film 'Pengabdian' Bersama Rhoma Irama : Langkah Strategis Dangdut Goes to UNESCO

Tarunaglobalnews.com Jakarta | Dalam rangka memperluas apresiasi terhadap budaya sekaligus mendukung gerakan Dangdut Goes to UNESCO, musik dangdut sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) berkolaborasi dengan DPP Persatuan Artis Musik Dangdut Indonesia (DPP PAMDI) menggelar Kelas Literasi Sinema.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan 2026, yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 Gedung Perpusnas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (29/9). 

Acara dihadiri Ketua Umum DPP PAMDI H. Rhoma Irama bersama jajaran pengurus PAMDI, sejumlah musisi, pencipta lagu, serta tokoh senior musik dangdut, di antaranya H. Mansyur S., Camelia Malik, Ike Nurjanah, Chintami Atmanagara, Caca Handika serta Agung Laksono selaku Ketua Dewan Pembina DPP PAMDI. Hadir pula Dr. Mohammad Amin, praktisi kebijakan kebudayaan dan etnomusikolog. 

Kelas Literasi Sinema dikemas dalam bentuk nonton bareng dan bedah film legendaris era 1980-an berjudul 'Pengabdian', yang disutradarai sekaligus dibintangi oleh H. Rhoma Irama. Usai pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama Rhoma Irama dan Dr. Mohammad Amin.

Film tersebut tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan perfilman dan musik dangdut Indonesia, tetapi juga dinilai memiliki berbagai visi, pesan moral, serta nilai-nilai sosial dan budaya yang masih relevan untuk dikaji dan didokumentasikan sebagai bagian dari literasi kebudayaan.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, menegaskan bahwa Perpusnas akan terus mengambil langkah dalam menjaga warisan dan karya bangsa.

"Saat ini Perpusnas telah bertransformasi, bukan hanya sebagai ruang belajar dan kumpulan buku, tetapi sebagai ruang kreativitas dan inklusi, serta menjadi rumah bagi karya-karya bangsa," ujar Suharyanto.

Menurutnya, penguatan fungsi perpustakaan sebagai ruang kreativitas juga dilakukan melalui apresiasi terhadap karya-karya anak bangsa. Ia menyebut salah satunya adalah karya sastrawan Taufiq Ismail yang direncanakan mendapat apresiasi dalam kegiatan Perpusnas pada November mendatang.

"Ini menunjukkan penguatan perpustakaan sebagai ruang kreativitas," katanya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum PAMDI Cici Faramida menyampaikan apresiasi kepada Perpusnas yang telah memberikan ruang bagi musik dangdut untuk tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga dikaji, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

"Mewakili PAMDI kami mengucapkan terima kasih kepada Perpusnas yang telah membuka ruang bagi musik dangdut untuk tidak hanya didengar, tetapi juga dikaji, didokumentasikan dan diwariskan. PAMDI mempunyai tanggung jawab untuk perjalanan tersebut," ungkap Cici.

Fokus utama pembahasan pada sesi diskusi berpusat pada kaitan antara karya sinema, musik dangdut, dan kebudayaan nasional. Nilai Historis Film Pengabdian yang mengupas sejarah dan latar belakang pembuatan film tersebut, serta bagaimana karya-karya legendaris Rhoma Irama merekam perjalanan perkembangan musik dangdut di Indonesia.

Kolaborasi Perpusnas dan PAMDI tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat literasi dan dokumentasi musik dangdut sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Selain memperkenalkan kembali karya-karya dan perjalanan musik dangdut kepada generasi muda, kegiatan ini juga membuka ruang diskusi mengenai nilai sejarah, sosial, budaya, dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Melalui kegiatan tersebut, musik dangdut tidak hanya ditempatkan sebagai genre musik populer, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia yang perlu terus dikaji, didokumentasikan, diapresiasi, dan diwariskan kepada generasi beriku. (Wennie/Raja) 

Posting Komentar

0 Komentar