Breaking News

6/recent/ticker-posts

Aksi BEM SI Sumut, Tuntutan yang Berujung Tanda Tangan, Setelah Ketegangan di Pagar DPRD

Tarunaglobalnews.com Medan | Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Sumatera Utara menggelar aksi demonstrasi bertajuk "September Hitam, September Melawan dari Daerah untuk Indonesia" di Gedung DPRD Sumatera Utara pada hari Kamis (10/9/2026). 

Puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi termasuk USU, UNIMED, POLMED, Universitas Murni Teguh, Universitas Quality, UIN Syahada Padangsidimpuan, serta kampus yang tergabung dalam BEM SI Sumut berkumpul sejak pukul 15.15 WIB di Taman Kebun Bunga, Medan. 

Mereka membawa lima tuntutan yang mencakup isu nasional dan daerah. Penuntasan reformasi Polri, transparansi proses hukum kasus Andrie Yunus, penghentian tindakan represif terhadap kebebasan berpendapat, percepatan penanggulangan bencana di Sumatera Utara, pemberantasan narkotika, serta evaluasi total tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator Daerah BEM SI Sumatera Utara, Sakti Pati Alam, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar penyampaian aspirasi, melainkan juga upaya kolektif untuk merenungkan kembali peristiwa kelam bangsa pada bulan September. "Jika bangsa melupakan sejarah kelamnya, maka bangsa tersebut dapat mengulang kesalahan yang sama," ujarnya.

Massa bergerak menuju Gedung DPRD Sumatera Utara pada pukul 15.30 WIB dan disambut barisan aparat kepolisian. Ketua BEM USU, Angga Al Maaris, menegaskan bahwa kedatangan mahasiswa bukan untuk berbuat rusuh, melainkan menyampaikan aspirasi masyarakat. Massa beberapa kali mendesak agar barisan terdepan aparat kepolisian diisi personel laki-laki, bukan polisi wanita (polwan), sebagai bentuk keberatan terhadap penempatan tersebut. Hingga berita ini diturunkan, permintaan itu belum mendapat tanggapan.

Ketegangan sempat memanas ketika massa terus menyuarakan tuntutannya. Sekitar pukul 16.30 WIB, mahasiswa yang dipimpin BEM USU kembali menuntut kehadiran Ketua DPRD Sumut. Situasi kian memanas pada pukul 16.43 WIB ketika para presiden mahasiswa membentuk lingkaran dan menyalakan api di tengah barisan, diiringi lagu Tanah Airku. Orator Itsqon Wafi, demisioner Presiden Mahasiswa UNIMED, menyerukan persatuan mahasiswa. Orator lain mempertanyakan urgensi pertemuan apabila pimpinan DPRD tidak bersedia membuka ruang diskusi.

Pada pukul 16.54 WIB, BEM USU membuka mimbar bebas. Namun, hingga pukul 17.15 WIB, pimpinan DPRD Sumut belum menemui massa. Sirine dibunyikan dan sejumlah massa mulai memanjat pagar gedung. Seorang peserta aksi mengalami luka akibat terkena bagian besi pagar. Sekitar pukul 17.20 WIB, seorang petugas kepolisian menyampaikan bahwa pimpinan DPRD akan menemui massa. Tak lama kemudian, Ketua DPRD Sumut Erni Ariyanti Sitorus, S.H., M.Kn., turun menemui demonstran.

Dalam dialog tersebut, perwakilan mahasiswa menyampaikan sejumlah persoalan, termasuk kasus Andrie Yunus, tindakan kepolisian, dan persoalan kriminalitas di Sumatera Utara. Angga Al Maaris Harahap meminta pandangan Erni mengenai keresahan masyarakat terhadap kondisi keadilan di Indonesia setelah 81 tahun kemerdekaan. Erni menegaskan bahwa keresahan mahasiswa juga dirasakannya. "Apa yang kalian rasakan maka saya juga merasakan hal tersebut. Jika kalian merasa tidak merdeka maka saya juga merasa demikian," ujarnya.

Setelah dialog, perwakilan mahasiswa membacakan tuntutan aksi. Seluruh tuntutan disetujui dan ditandatangani secara resmi oleh Ketua DPRD Sumut sekitar pukul 17.40 WIB. Aksi ditutup dengan suasana khidmat, massa membentuk lingkaran, menyalakan lilin, dan menyanyikan lagu Tanah Airku. Bunga dilemparkan ke arah spanduk, bendera perguruan tinggi dikibarkan, dan aksi diakhiri dengan doa bersama pada pukul 18.04 WIB. Massa kemudian membersihkan area demonstrasi dan kembali ke Taman Bunga sebelum menuju Gelanggang Mahasiswa USU. (Red)

Posting Komentar

0 Komentar