Breaking News

6/recent/ticker-posts

Dari Mushola Kecil hingga Masjid Harapan: Kisah Toleransi di Nagori Tiga Bolon



Tarunaglobalnews.com | Simalungun — Pagi itu, Rabu (29/01/2026), sinar matahari jatuh tepat di halaman Masjid Al Barokah Ikhlas Beramal. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema lembut, mengalun dari bibir juara pertama MTQ Kecamatan Sidamanik. Di hadapan masjid yang berdiri di tepi jalan umum Nagori Tiga Bolon, ratusan warga berkumpul—Muslim dan non-Muslim—menyaksikan satu momen yang bagi mereka bukan sekadar peresmian bangunan, melainkan perayaan kebersamaan.

Masjid Al Barokah Ikhlas Beramal resmi diresmikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Simalungun, Dr. H. Bahrum Saleh, MA. Pemotongan pita di depan pintu masjid menjadi penanda dimulainya babak baru kehidupan keagamaan umat Muslim di wilayah yang selama ini dikenal sebagai nagori dengan penduduk Muslim minoritas.

Namun, masjid ini tidak berdiri dalam semalam. Ia lahir dari perjalanan panjang, dari sebuah mushola sederhana yang dibangun dengan keterbatasan, hingga tumbuh menjadi masjid yang layak dan terbuka bagi siapa saja yang ingin menunaikan ibadah.

Masjid yang Lahir dari Musyawarah dan Niat Baik,gagasan membangun masjid ini diprakarsai oleh KUA Pematang Sidamanik, yang dipimpin H. Sumarno, S.Ag., MM, bersama tokoh masyarakat Tanjaya Sidauruk, SH, dan warga Nagori Tiga Bolon. Mereka melihat kebutuhan umat akan tempat ibadah yang lebih representatif, sekaligus lokasi yang mudah dijangkau.

Dipilihlah lahan di pinggir jalan umum—bukan tanpa alasan. Lokasi itu diharapkan menjadi tempat singgah bagi umat Muslim yang melintas, sekaligus simbol keterbukaan bahwa rumah ibadah ini berdiri untuk kemaslahatan bersama.

Tanah tempat berdirinya masjid berasal dari wakaf warga setempat, ditambah pembelian lahan untuk memperluas area. Yang membuat kisah ini istimewa, bantuan mengalir bukan hanya dari umat Muslim, tetapi juga dari masyarakat non-Muslim yang dengan sukarela ikut berdonasi.


“Masjid ini berdiri karena niat baik banyak orang. Di sini kami belajar bahwa perbedaan tidak menghalangi kita untuk saling membantu,” tutur Tanjaya Sidauruk, SH, Ketua Panitia Pembangunan Masjid, dengan suara penuh rasa syukur.

Dalam sambutannya, Dr. H. Bahrum Saleh, MA menyampaikan apresiasi atas semangat kebersamaan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pembangunan masjid ini merupakan hasil musyawarah panjang dan kolaborasi berbagai pihak.

“Masjid ini sudah lama kami rancang dan musyawarahkan. Alhamdulillah, dengan dukungan masyarakat dan pemerintah, masjid ini akhirnya berdiri. Ini bukan hanya tentang bangunan, tapi tentang merawat kerukunan,” ujarnya.

Ia juga menekankan peran Kementerian Agama dalam menjaga harmoni antarumat beragama. Menurutnya, masjid ini harus menjadi ruang yang menyejukkan, bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat silaturahmi dan pembinaan umat.

“Kami akan terus mendukung masjid ini, tidak berhenti pada peresmian. Terlebih menjelang Ramadan, kami akan mendampingi dan membantu agar masjid ini benar-benar hidup dan memberi manfaat,” tambahnya.


Camat Sidamanik, Juliana F. Simarmata, S.IP, melihat berdirinya Masjid Al Barokah Ikhlas Beramal sebagai kekuatan sosial bagi wilayahnya.

“Masjid ini adalah kebanggaan kita bersama. Letaknya yang strategis memungkinkan siapa saja singgah untuk beribadah. Ini menjadi simbol keramahan dan keterbukaan masyarakat Sidamanik,” ujarnya.

Ia berharap masjid ini tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter, sekaligus penguat toleransi antarumat beragama di Nagori Tiga Bolon.

Peresmian masjid turut dihadiri oleh jajaran Kementerian Agama Kabupaten Simalungun, Dewan Masjid Indonesia (DMI), pemerintah kecamatan dan nagori, aparat TNI, para penyuluh agama, jamaah perwiritan, serta masyarakat dari berbagai latar belakang.


Di tengah kehadiran mereka, Masjid Al Barokah Ikhlas Beramal berdiri tegak—bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi sebagai penanda harapan. Harapan bahwa di tengah perbedaan keyakinan, masyarakat masih bisa duduk bersama, bermusyawarah, dan saling menopang.

Di Nagori Tiga Bolon, masjid ini menjadi saksi bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari—dirawat dengan keikhlasan, dibangun dengan gotong royong, dan dijaga dengan rasa saling menghormati. (Red)

Posting Komentar

0 Komentar