Opini oleh : Pajar Saragih
Di atas kertas, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai langkah revolusioner untuk memperbaiki kualitas gizi anak bangsa dan mempersiapkan generasi masa depan. Namun, di lapangan, pelaksanaan program ini justru meninggalkan jejak catatan kelam dan kontradiksi tajam. Berbagai insiden keracunan massal yang menimpa para siswa di berbagai daerah telah mengubah niat mulia pemenuhan gizi menjadi sebuah kenyataan pahit yang mencemaskan para orang tua murid.
Fenomena ini bukan sekadar insiden kecil atau kesalahan teknis sesaat. Realitas di berbagai wilayah menunjukkan bagaimana anak-anak sekolah—yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama—malah harus berurusan dengan rumah sakit dan puskesmas akibat mengonsumsi makanan yang disajikan oleh program ini. Distribusi yang amburadul, lemahnya kontrol kualitas (quality control) dari dapur penyedia, serta pengabaian terhadap standar higienitas menunjukkan adanya celah besar dalam tata kelola pelaksanaan di tingkat akar rumput.
Yang lebih mencengangkan dan mencederai rasa keadilan publik adalah lambannya penegakan hukum dan akuntabilitas. Hingga saat ini, di tengah banyaknya korban anak-anak yang bergelimpangan di daerah-daerah, belum ada satupun pihak atau oknum penanggung jawab yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah keselamatan anak-anak sekolah harus dikorbankan demi mengejar target distribusi yang masif tanpa pengawasan ketat?
Catatan Kritis dan Realitas di Daerah:
Implikasi Kasus Keracunan Massal: Berbagai laporan dari daerah membuktikan bahwa kelalaian dalam pengolahan makanan berdampak langsung pada kesehatan fisik dan mental anak-anak serta trauma psikologis bagi orang tua murid.
Impunitas Terselubung: Ketidakhadiran sanksi hukum yang tegas dan nihilnya penetapan tersangka mengesankan adanya perlindungan terhadap pihak-pihak katering atau pelaksana proyek yang lalai, menciptakan preseden buruk bagi penegakan standar pelayanan publik.
Mendesak Evaluasi Total: Program MBG tidak boleh terus berjalan dengan mengabaikan keselamatan jiwa. Negara harus segera menghentikan pendekatan "kejar tayang" yang mengorbankan kualitas demi citra semata.
Jika pemerintah serius menjadikan program ini sebagai pilar pembangunan SDM nasional, maka penegakan hukum terhadap kasus keracunan harus dilakukan secara transparan dan tanpa kompromi. Mengabaikan jatuhnya korban di daerah dengan dalih "keteledoran ringan" hanya akan mengubah program strategis ini menjadi sebuah skandal kemanusiaan yang mencederai kepercayaan publik. Nyawa anak-anak di daerah jauh lebih berharga daripada sekadar angka statistik distribusi yang sukses di atas meja laporan. (**)

0 Komentar