Tarunaglobalnews.com Simalungun | Proyek pengerjaan rekonstruksi jalan jurusan Panombean - Bandar Tinggi / Batas Kabupaten Batu Bara, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, kini menuai sorotan tajam dari masyarakat. Proyek bernilai fantastis yang menelan anggaran APBD Kabupaten Simalungun TA. 2026 sebesar Rp 3.914.172.598,00 ini dinilai dikerjakan setengah hati dan terkesan asal-asalan.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan serta papan informasi proyek yang terpasang, kegiatan pengaspalan jalan jenis hotmix ini diserahkan kepada penyedia jasa CV. Baratama Cipta Marsada dengan masa pelaksanaan 150 hari kalender sejak SPMK diterbitkan 19 Juni 2026. Namun, realisasi di lapangan justru memicu kekecewaan berat bagi warga sekitar dan pengguna jalan.
![]() |
| Bagian jalan yang dilompati |
Keluhan utama warga tertuju pada sistem pengerjaan yang tampak aneh dan tidak berkesinambungan. Proyek aspal hotmix tersebut dikerjakan sepanjang kurang lebih 1 kilometer, namun tiba-tiba dihentikan atau dilangkahi sepanjang kurang lebih 700 meter. Setelah jarak yang dilangkahi tersebut, pihak kontraktor baru melanjutkan pengaspalan kembali.
Ironisnya, bagian jalan sepanjang ±700 meter yang dilewati dan tidak diaspal tersebut kondisinya saat ini rusak parah, kupak-kapik, serta sangat membutuhkan perbaikan instan agar tidak membahayakan mobilitas masyarakat.
![]() |
| Bahu jalan yang dikerjakan asal jadi |
Tak hanya masalah intermiten atau potongan jalan yang dilompati, warga juga menyoroti pengerjaan bahu jalan yang dinilai dikerjakan asal jadi tanpa pemadatan dan perataan yang kokoh, sehingga dikhawatirkan akan cepat tergerus air dan kembali hancur dalam waktu singkat.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari tokoh masyarakat Bandar Tinggi Miun Sungkawa, saat dikonfirmasi oleh awak media ini, secara terbuka menyampaikan kekecewaan mendalam atas teknis pengerjaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
"Kami sangat menyayangkan sistem pengerjaan proyek ini. Uang rakyat yang digelontorkan hampir mencapai 4 miliar rupiah, tetapi pengerjaannya terkesan tanggung dan melompat-lompat. Jalan yang dilangkahi sepanjang 700 meter itu justru titik yang krusial dan rusak. Kalau dibiarkan begini, asas manfaat pembangunan ini tidak akan maksimal dirasakan masyarakat," ujar Miun Sungkawa bersama masyarakat lainnya dengan nada kecewa. Selasa (15/9/2026).
Miun menambahkan bahwa masyarakat meminta transparansi dan evaluasi total dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Simalungun terhadap kinerja pihak rekanan CV. Baratama Cipta Marsada.
"Kami berharap Pemerintah Kabupaten Simalungun, khususnya Dinas PUTR, segera turun ke lapangan untuk meninjau ulang proyek ini. Tolong dengarkan jeritan masyarakat. Kami sangat berharap sisa jalan yang dilangkahi sepanjang 700 meter itu bisa ikut diperbaiki secara menyeluruh, serta pengerjaan bahu jalan yang asal jadi segera dibenahi sebelum masa kontrak habis," tegas Miun menutup konfirmasinya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor pelaksana maupun dinas terkait belum dapat dimintai keterangan lebih lanjut mengenai alasan teknis di balik metode pengaspalan jalan yang terputus-putus tersebut. Warga menegaskan akan terus mengawal proyek ini agar uang negara tidak terbuang sia-sia untuk infrastruktur yang tidak berkualitas. (Nasrin)



0 Komentar