Breaking News

6/recent/ticker-posts

Kisah Al-Qur’an Bukan Sekadar Cerita Masa Lalu, tetapi Cermin Kehidupan Manusia Hari Ini

Oleh : Faisal Akademisi STAI Panca Budi Perdagangan 

Opini | Membaca kisah-kisah dalam Al-Qur’an tidak semestinya berhenti pada upaya mengenal siapa tokohnya, kapan peristiwa itu terjadi, atau bagaimana akhir sebuah cerita. Lebih dari itu, kisah-kisah tersebut mengajak manusia membaca dirinya sendiri: tentang kesalahan, kesombongan, kesabaran, keimanan, kekuasaan, pengkhianatan, pengampunan, hingga perjuangan mempertahankan kebenaran.

Pesan itulah yang terasa kuat dalam buku Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an karya Syaikh Hamid Ahmad Ath-Thahir Al-Basyuni. Buku yang diterbitkan Pustaka Al-Kautsar ini menghimpun pembahasan panjang mengenai kisah penciptaan, para nabi, umat terdahulu, serta sejumlah riwayat yang berkaitan dengan kisah-kisah dalam Al-Qur’an. 

Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa dalam kisah-kisah orang terdahulu terdapat pelajaran bagi manusia yang mau menggunakan akal. Karena itu, kisah dalam Al-Qur’an memiliki fungsi pendidikan dan pembentukan kesadaran, bukan sekadar hiburan atau dongeng sejarah. 

Masa Lalu yang Sesungguhnya Masih Hidup

Kita hidup pada zaman yang berbeda dengan Adam, Ibrahim, Yusuf, Musa, Sulaiman, Maryam, maupun umat-umat terdahulu.

Manusia hari ini memiliki teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, gedung-gedung tinggi, sistem ekonomi modern dan berbagai bentuk kemajuan yang tidak pernah dikenal manusia masa lalu.

Namun, ada sesuatu yang ternyata tidak banyak berubah: watak manusia.

Kesombongan masih ada.

Kecemburuan masih ada.

Perebutan kekuasaan masih ada.

Fitnah masih ada.

Keserakahan masih ada.

Ketidakadilan masih ada.

Di sisi lain, kesabaran, kejujuran, keberanian, pengorbanan, kasih sayang dan keteguhan iman juga tetap menjadi nilai yang dicari manusia.

Karena itu, kisah Al-Qur’an tetap menemukan relevansinya di tengah kehidupan modern.

Kisah masa lalu ternyata berbicara tentang manusia hari ini

Adam dan Pelajaran tentang Kesalahan

Kisah Nabi Adam mengajarkan bahwa manusia memiliki kemungkinan untuk melakukan kesalahan. Tetapi kesalahan bukan berarti berakhirnya perjalanan hidup.

Di dalam kisah Adam terdapat pelajaran tentang perintah Allah, godaan Iblis, kejatuhan manusia, serta taubat dan pengampunan.

Di sinilah kita menemukan perbedaan penting antara orang yang melakukan kesalahan dan orang yang mempertahankan kesalahan karena kesombongan.

Adam menjadi gambaran manusia yang kembali kepada Allah.

Sementara Iblis memperlihatkan bahaya kesombongan dan pembangkangan.

Dalam kehidupan sekarang, pelajaran itu terasa sangat dekat. Tidak ada manusia yang sepenuhnya bebas dari kekeliruan. Yang penting adalah kesediaan mengakui, memperbaiki dan kembali kepada jalan yang benar.

Yusuf dan Kesabaran di Tengah Ujian

Kisah Nabi Yusuf menjadi salah satu kisah yang paling kuat berbicara tentang perjalanan manusia menghadapi ujian.


Ia mengalami persoalan keluarga, pengkhianatan, keterasingan, fitnah dan penjara sebelum akhirnya memperoleh kedudukan yang memungkinkan dirinya berperan dalam kehidupan masyarakat.

Dari sini kita belajar bahwa keadaan seseorang hari ini belum tentu menggambarkan keseluruhan perjalanan hidupnya.

Apa yang terlihat sebagai keterpurukan mungkin merupakan bagian dari perjalanan menuju keadaan yang belum kita ketahui.

Namun, yang paling penting bukan sekadar perubahan nasib Yusuf. Yang lebih penting adalah keteguhan karakter ketika menghadapi ujian.

Kisah Yusuf mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh kehilangan integritas hanya karena keadaan sedang tidak berpihak kepadanya.

Ibrahim dan Keberanian Mencari Kebenaran

Kisah Nabi Ibrahim membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana manusia menemukan kebenaran dan mempertahankan tauhid.

Ibrahim tidak sekadar mengikuti keyakinan masyarakat di sekitarnya. Kisahnya memperlihatkan keberanian menghadapi praktik penyembahan yang bertentangan dengan tauhid.

Pesannya relevan bagi masyarakat modern.

Kemajuan zaman tidak berarti manusia terbebas dari berbagai bentuk "berhala".

Berhala modern bisa hadir dalam bentuk kekuasaan, harta, popularitas, status sosial bahkan kepentingan pribadi yang ditempatkan di atas nilai kebenaran.

Karena itu, pertanyaan penting bagi manusia hari ini bukan hanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang sebenarnya kita sembah dan kita jadikan tujuan hidup.

Musa dan Fir’aun: Ketika Kekuasaan Diuji oleh Kebenaran

Kisah Nabi Musa dan Fir’aun memperlihatkan salah satu tema besar dalam Al-Qur’an: hubungan antara kekuasaan dan kebenaran.

Fir’aun memiliki kekuasaan besar. Namun kekuasaan tersebut tidak menjadikannya benar.

Kisah ini mengingatkan bahwa kekuasaan pada hakikatnya merupakan amanah.

Ketika kekuasaan digunakan untuk menindas, manusia dapat kehilangan batas moralnya. Sebaliknya, kekuasaan yang disertai tanggung jawab dapat menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan.

Pesan tersebut semakin penting dalam kehidupan modern, ketika manusia memiliki berbagai bentuk kekuasaan politik, ekonomi, sosial maupun teknologi.

Pertanyaannya bukan semata siapa yang memiliki kekuasaan, tetapi untuk apa kekuasaan tersebut digunakan.

Sulaiman dan Makna Amanah

Kisah Nabi Sulaiman juga memberikan perspektif menarik mengenai kekuasaan.

Ia memperoleh kerajaan dan berbagai keistimewaan yang diberikan Allah. Namun, kisah tersebut tidak semestinya dibaca sebagai cerita tentang kemegahan semata.

Kekuasaan selalu membawa tanggung jawab.

Harta membawa tanggung jawab.

Ilmu membawa tanggung jawab.

Jabatan membawa tanggung jawab.

Bahkan popularitas pun membawa tanggung jawab.

Karena itu, semakin besar kemampuan seseorang memengaruhi orang lain, semakin besar pula tuntutan moral yang melekat padanya.

Dalam konteks kehidupan hari ini, prinsip tersebut berlaku bagi pemimpin, pejabat, akademisi, tokoh agama, pengusaha, aktivis, bahkan pengguna media sosial.

Ketika Kisah Agama Harus Dibaca dengan Kritis

Salah satu hal penting dalam buku ini adalah perhatian terhadap riwayat Israiliyyat dan maudhu’.

Buku tidak mengajak pembaca menerima semua cerita yang beredar tentang nabi dan umat terdahulu secara begitu saja. Pada sejumlah pembahasan, penulis justru memberikan catatan kritis terhadap riwayat yang dinilai lemah, tidak memiliki dasar yang kuat, atau bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadis yang sahih. 

Hal ini menjadi pelajaran penting di tengah era media sosial.

Hari ini, sebuah cerita keagamaan dapat menyebar hanya dalam hitungan menit. Sebuah video, potongan tulisan, kutipan atau kisah yang mengatasnamakan agama dapat diteruskan ribuan kali tanpa pernah diperiksa sumbernya.

Padahal, viral tidak sama dengan benar.

Karena itu, literasi keagamaan membutuhkan sikap kritis sekaligus penghormatan terhadap sumber.

Jangan sampai sesuatu yang pada awalnya hanya sebuah cerita kemudian dianggap sebagai bagian dari ajaran agama.

Dari Ashabul Kahfi hingga Dzulqarnain

Kisah Ashabul Kahfi memberikan gambaran tentang keteguhan iman ketika berhadapan dengan tekanan lingkungan. Sementara kisah Dzulqarnain mengangkat persoalan perjalanan, kekuasaan, perlindungan masyarakat serta Ya’juj dan Ma’juj.

Daftar isi buku menunjukkan luasnya pembahasan tersebut, termasuk kisah para nabi dan umat terdahulu, serta berbagai catatan mengenai riwayat yang berkaitan dengannya. 

Dari keseluruhan kisah itu terlihat satu benang merah: manusia selalu diuji dengan bentuk yang berbeda.

Ada yang diuji dengan kemiskinan.

Ada yang diuji dengan kekayaan.

Ada yang diuji dengan kehilangan.

Ada yang diuji dengan kekuasaan.

Ada yang diuji dengan keluarga.

Ada pula yang diuji dengan popularitas dan kedudukan.

Ujian manusia mungkin berbeda bentuk, tetapi pertanyaan moralnya sering kali sama:

Apakah manusia tetap berada di jalan kebenaran ketika kepentingannya berhadapan dengan prinsip yang diyakininya?

Jangan Hanya Hafal Kisahnya

Di sinilah menurut penulis, relevansi terbesar buku Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an bagi kehidupan masyarakat hari ini.

Kita tidak membutuhkan generasi yang hanya mampu menceritakan kembali kisah Nabi Yusuf, tetapi tidak mampu belajar memaafkan.

Kita tidak hanya membutuhkan orang yang hafal kisah Nabi Musa, tetapi tidak peka terhadap ketidakadilan.

Kita tidak cukup hanya mengetahui kisah Nabi Sulaiman, tetapi tidak memahami bahwa kekuasaan adalah amanah.

Kita juga tidak cukup mengetahui kisah Nabi Adam jika tidak memahami arti taubat.

Sebab tujuan kisah bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membentuk manusia.

Al-Qur’an mengajak pembacanya untuk mengambil ibrah pelajaran yang dapat mengubah cara berpikir dan cara bertindak.

Kisah Al-Qur’an untuk Zaman Digital

Di tengah banjir informasi hari ini, kisah-kisah Al-Qur’an justru memiliki ruang yang semakin penting.

Manusia modern mungkin tidak kekurangan informasi. Yang sering hilang adalah kemampuan untuk mengambil hikmah dari informasi tersebut.

Kita dapat mengetahui ribuan peristiwa setiap hari melalui telepon genggam.

Namun mengetahui banyak hal tidak otomatis membuat manusia menjadi bijaksana.

Di sinilah kisah Al-Qur’an mempunyai kedudukan penting.

Ia mengajak manusia berhenti sejenak dari derasnya informasi untuk bertanya:

Apa pelajarannya?

Apa yang harus diperbaiki?

Apa yang harus dihindari?

Apa yang harus dipertahankan?

Dan yang paling penting:

Apa yang harus berubah dalam diri kita setelah membaca kisah tersebut?

Membaca Masa Lalu untuk Memperbaiki Masa Kini

Kisah-Kisah dalam Al-Qur’an pada akhirnya bukan hanya kumpulan cerita tentang manusia yang telah hidup berabad-abad lalu.

Ia adalah refleksi tentang manusia.

Tentang bagaimana manusia menghadapi kesalahan seperti Adam.

Tentang bagaimana manusia menghadapi ujian seperti Yusuf.

Tentang bagaimana manusia mempertahankan tauhid seperti Ibrahim.

Tentang bagaimana manusia berhadapan dengan kekuasaan seperti Musa.

Tentang bagaimana manusia menggunakan kekuasaan sebagai amanah seperti Sulaiman.

Tentang bagaimana manusia mempertahankan iman seperti Ashabul Kahfi.

Dengan demikian, kisah-kisah Al-Qur’an tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu.

Tokohnya mungkin telah tiada, tetapi persoalan kemanusiaannya masih hidup.

Dan mungkin itulah alasan mengapa Al-Qur’an terus mengajak manusia membaca kisah orang-orang terdahulu.

Bukan agar kita sekadar mengetahui siapa mereka.

Tetapi agar kita mampu bertanya kepada diri sendiri:

"Jika saya berada dalam keadaan mereka, pilihan apa yang akan saya ambil?"

Pada akhirnya, membaca kisah Al-Qur’an bukan hanya perjalanan melihat masa lalu.

Ia adalah perjalanan melihat diri sendiri.

Dan ketika sebuah kisah mampu membuat manusia bercermin, di situlah kisah tersebut benar-benar menjadi petunjuk. (**)

Posting Komentar

0 Komentar