Penulis : Gilang Putra Aditya Naibaho SH
Hari Buruh seharusnya menjadi momen di mana harapan jutaan pekerja terwujud. Apa yang mereka nantikan dengan sabar? Bukan sekadar ucapan selamat, melainkan perubahan nyata: penghapusan sistem outsourcing yang merugikan, kenaikan upah minimum yang benar-benar layak untuk menutupi kebutuhan hidup, jaminan pendidikan yang layak untuk anak-anak mereka, perumahan yang pantas dihuni, serta kepastian kesehatan yang terjamin. Semua itu adalah hal-hal yang benar-benar berguna, yang bisa mengubah keseharian mereka dan masa depan keluarga mereka.
Namun kenyataannya... di hari yang seharusnya penuh harapan ini, apa yang diberikan Presiden? Hanya sebuah hadiah yang sekilas terlihat bagus, tapi saat dicermati lebih dalam, ternyata hanya sekadar pembentukan lembaga baru. Lembaga yang katanya nanti akan memberikan masukan, nanti akan melakukan inventarisasi peraturan-peraturan yang dinilai tidak sesuai kebutuhan, atau yang dianggap merugikan kepentingan buruh.
Wah, sungguh kado yang sangat istimewa! Bayangkan saja: buruh menunggu hasil yang bisa mereka rasakan dan manfaatkan hari ini, tapi yang mereka terima hanyalah lembaga-lembaga yang tugasnya hanya berputar-putar dalam ruang rapat, membahas hal-hal yang belum tentu ada hasilnya. Ini bukan hadiah yang berarti, ini lebih tepat disebut "hadiah omom-omon", sesuatu yang terdengar bagus di telinga, membuat kepala kita seolah-olah mendapat banyak informasi, tapi pada akhirnya perut tetap kenyang tidak juga, dan masalah tetap tidak terselesaikan.
Mari kita lihat dengan jelas apa yang terjadi:
✅ Kalau buruh ingin penghapusan sistem outsourcing? Dijawab dengan lembaga yang nanti akan membahasnya...
✅ Kalau buruh menginginkan UMR yang cukup untuk makan sehari-hari? Diberi lembaga yang nanti akan meninjaunya...
✅ Kalau buruh berharap anak-anak mereka bisa sekolah dengan tenang dan nyaman? Diberi lembaga yang nanti akan memeriksanya...
✅ Kalau buruh menginginkan tempat tinggal yang layak dan pelayanan kesehatan yang terjamin? Diberi lembaga yang nanti akan mengkajinya...
Jadi intinya begini: buruh menginginkan solusi untuk masalah nyata yang mereka hadapi setiap hari, tapi malah diberikan tugas baru untuk membahas masalah-masalah itu seolah-olah mereka hanya berurusan dengan tulisan di atas kertas, bukan dengan perut yang kosong, tempat tinggal yang sempit, atau masa depan anak-anak yang masih belum jelas.
Lalu muncul pertanyaan besar: Apakah Pak Prabowo benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh para buruh? Atau memang sengaja tidak mau mengerti?
Kalau memang dia tidak mengerti, wajar saja kalau para buruh merasa kecewa dan kecewa. Tapi kalau memang sengaja tidak mau mengerti... ya, itulah yang disebut memberikan hadiah omon-omon: sesuatu yang lebih enak didengar daripada benar-benar bisa dirasakan manfaatnya.
Para buruh tidak membutuhkan banyak lembaga yang hanya berfungsi untuk berbicara dan membahas. Mereka membutuhkan tindakan nyata, perubahan yang bisa mereka rasakan hari ini, bukan janji yang akan dibahas berulang-ulang sampai tidak ada hasilnya.
Jadi, selamat Hari Buruh... semoga hadiah yang diberikan ini kelak benar-benar berubah menjadi kenyataan yang bisa dinikmati oleh seluruh pekerja, bukan hanya sekadar omongan yang berputar-putar tanpa arah yang jelas!

0 Komentar