Tarunaglobalnews.com Medan — Gedung Serba Guna PKK Kota Medan, Kamis (12/2/2026), menjadi saksi pertemuan para inovator dan pengabdi masyarakat dalam ajang Lomba Invensi dan Pengabdian Masyarakat Seri II yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Medan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program “Semua untuk Medan”, sebuah gerakan kolaboratif yang mendorong partisipasi warga dalam pembangunan kota melalui inovasi dan karya nyata.
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam sambutannya menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh tersentralisasi hanya pada pemerintah. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam melahirkan gagasan, invensi, serta program pengabdian yang berdampak langsung. “Semua untuk Medan artinya kami ingin menyerap ide dari masyarakat, mengolahnya menjadi program, lalu mengimplementasikannya kembali untuk masyarakat,” ujar Rico Waas. Ia juga mengingatkan bahwa Kota Medan memiliki potensi besar melahirkan inovator nasional bahkan internasional, asalkan karya-karya tersebut diberi ruang dan diimplementasikan.
Kepala BRIDA Kota Medan, Benny Iskandar, menjelaskan bahwa lomba ini merupakan bentuk apresiasi terhadap dedikasi nyata masyarakat dalam menjawab persoalan kota. Ajang ini membuka ruang bagi akademisi, pelajar, dan masyarakat umum untuk menghadirkan solusi berbasis riset dan pengalaman lapangan. Antusiasme peserta menunjukkan tren positif, dengan ratusan pendaftar dari berbagai latar belakang. Setelah melalui seleksi administrasi dan penilaian ketat, sebanyak 25 finalis tampil mempresentasikan karya mereka, terdiri dari 15 finalis kategori Invensi dan 10 finalis kategori Pengabdian Masyarakat.
Salah satu finalis kategori Pengabdian Masyarakat adalah Sry Lestari Samosir, dosen Universitas Negeri Medan, yang mengusung program berjudul “Pemajuan Kebudayaan dan Nilai Kebhinekaan melalui Klinik Kebhinekaan sebagai Pusat Edukasi, Kolaborasi, dan Advokasi bagi Masyarakat di Kota Medan.” Program ini lahir dari kegelisahan akademik terhadap pembangunan yang kerap diidentikkan dengan teknologi, smart city, dan transformasi digital, sementara isu kebebasan beragama atau berkeyakinan serta hak asasi manusia masih sering terpinggirkan.
Melalui Klinik Kebhinekaan, Sry menghadirkan ruang dialog lintas komunitas, mulai dari mahasiswa, komunitas kepercayaan lokal, lembaga bantuan hukum, sekolah inklusif, hingga masyarakat umum. Program ini tidak hanya berfokus pada edukasi nilai kebangsaan, tetapi juga menyediakan ruang advokasi bagi warga yang mengalami diskriminasi atau kesulitan dalam menjalankan keyakinannya. Bagi Sry, pembangunan kota tidak cukup hanya dengan infrastruktur dan digitalisasi, tetapi juga harus merawat ingatan kolektif, kebudayaan, dan identitas kebangsaan.
Menjadi finalis dalam ajang ini, menurutnya, bukan sekadar pencapaian personal. Kesempatan mempresentasikan gagasan tentang kebhinekaan dan keadilan sosial di forum resmi pemerintah kota merupakan bagian dari perjuangan intelektual untuk memastikan bahwa kemajuan tidak mengorbankan kemanusiaan. “Bangsa besar bukan hanya yang maju teknologinya, tetapi yang kuat merawat keberagamannya,” ujarnya.
Ajang ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kota Medan untuk mengimplementasikan karya yang terbukti efektif dan bermanfaat. Dengan mengangkat tema karya nyata untuk kota, lomba ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni penghargaan, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan yang mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Kehadiran Sry Lestari Samosir sebagai finalis menunjukkan bahwa gagasan tentang kebudayaan dan kebhinekaan tetap relevan di tengah arus digitalisasi. Di antara berbagai inovasi berbasis teknologi yang dipresentasikan, suara tentang pentingnya ruang dialog, kesetaraan, dan hak konstitusional menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati selalu berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. (FS)


0 Komentar