Tarunaglobalnews.com Batu Bara| Kata Ustadz Umadz, Saya juga punya Gallery Tenun Songket Ammar,yang didalamnya menyediakan Tanjak Sesuai Permintaan Pembeli. Saya Senang melihat meriahnya acara Batu Bara Bertanjak.
Menurut Pandangan Pendidikan Islam terhadap tradisi dan gerakan kebudayaan "Batu Bara Bertanjak" (penggunaan tanjak dan pelestarian seni-budaya Melayu di Kabupaten Batu Bara) berlandaskan pada kaidah ushul fikih:
العَادَةُ مُحَكَّمَةٌ (Al-'aadatuhu muhakkamah) — "Adat kebiasaan dapat dijadikan sebagai hukum selama tidak bertentangan dengan syariat Islam."
Dalam kebudayaan Melayu, terdapat filosofi mendasar bahwa "Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah". Oleh karena itu, Pendidikan Islam memandang tradisi Batu Bara Bertanjak bukan sekadar seremonial atau warisan visual, melainkan sebagai sarana media pendidikan akhlak, identitas, dan dakwah Islam yang efektif.
1. Tanjak sebagai Simbol Kepribadian dan Adab Islam
Dalam Pendidikan Islam, cara berpakaian bukan sekadar penutup aurat, melainkan cerminan adab dan kehormatan (muru'ah).
Wibawa dan Kerendahan Hati: Tanjak (penutup kepala khas Melayu) melambangkan kewibawaan, simetrisnya akal dan hati, serta ketaatan kepada Allah Swt (Sang Pencipta).
Integrasi Nilai Busana Muslim: Pendidikan Islam mendukung pembiasaan penggunaan tanjak karena selaras dengan anjuran menutup kepala bagi laki-laki dalam tradisi para ulama dan sahabat (menggunakan amamah/kopiah/tanjak) sebagai bagian dari kesopanan dan kelengkapan berhias.
2. Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Bertanjak
Objek / Kegiatan Budaya Pandangan Pendidikan Islam Implementasi Nilai Edukatif.
Simbol Tanjak Media Pendidikan Karakter (Tahdzib) Menanamkan rasa bangga pada identitas keislaman-Melayu, menjaga kehormatan diri (muru'ah), dan menegakkan marwah.
Pawai dan Gebyar Kebudayaan Ukhuwah Islamiyah dan Silaturahmi Mempererat tali persaudaraan antarwarga, memupuk semangat gotong royong dan kebersamaan dalam masyarakat.
Seni Seni Tradisi Melayu Dakwah & Penguatan Tauhid Lirik lagu daerah Melayu (seperti Senandong Batu Bara) dan pertunjukan seni tradisional sarat akan nasihat moral, zikir, serta nilai ketaqwaan.
3. Fungsi Bertanjak dalam Perspektif Edukasi Islam
A. Penguatan Identitas Generasi Muda
Pendidikan Islam menekankan pentingnya menjaga generasi muda dari krisis identitas (ghazwul fikri). Gerakan Bertanjak menjadi sarana edukasi bagi anak-anak dan remaja agar tidak kehilangan akar sejarah Islam-Melayu di tanah kelahirannya.
B. Pewarisan Nilai Keteladanan (Uswah)
Melalui agenda seperti Gebyar Batu Bara Bertanjak, generasi tua mengajarkan tata krama, adab berbicara, cara berpakaian yang santun (patut), serta penghormatan kepada orang tua dan ulama.
Catatan dan Prinsip Pengawasan (Tarbiyah)
Agar tradisi ini tetap berjalan sesuai garis Pendidikan Islam, terdapat beberapa hal yang perlu dijaga:
Menghindari Syirik dan Khurafat: Tradisi bertanjak dan kegiatan budaya di dalamnya harus murni sebagai warisan seni dan nilai sosial, tanpa disertai ritual mistis atau pemujaan yang merusak tauhid.
Menjaga Batasan Syariat:
عَنْ مَكْحُولٍ ، عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ حَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَفَرَضَ لَكُمْ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا وَتَرَكَ أَشْيَاءَ مِنْ غَيْرِ نِسْيَانٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَكِنْ رَحْمَةٌ مِنْهُ لَكُمْ فَاقْبَلُوهَا وَلاَ تَبْحَثُوا فِيهَا.
Artinya: Dari makhul, dari Abu Sta`labah radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menentukan batasan-batasan, maka janganlah engkau menerjangnya; telah menetapkan beberapa kewajiban, maka janganlah engkau menyepelekannya; mengharamkan beberapa hal maka janganlah engkau melanggarnya; serta mendiamkan beberapa hal sebagai suatu rahmat (kasih sayang) kepada kalian dan bukan karena lupa, maka janganlah engkau mencari-carinya (menanya-nanyakanya).”(HR. Daruquthni)
Ustadz Umadz menyampaikan ke awak media, Acara kebudayaan harus tetap memperhatikan waktu shalat, penutupan aurat, serta pembatasan pergaulan (ikhtilath) yang tidak berlebihan.
Penyampaian Makna Substansi: Penggunaan tanjak tidak berhenti pada formalitas estetika, melainkan diimbangi dengan pembelajaran makna filosofis keislaman yang terkandung di dalamnya.
Kesimpulan:
Pendidikan Islam menyambut baik dan mendukung adat budaya Batu Bara Bertanjak sebagai instrumen pendidikan kearifan lokal (local wisdom). Selama adat tersebut memperkuat ketakwaan, menjaga adab, dan tidak melanggar hukum syariat, tradisi ini merupakan sarana efektif untuk mendidik karakter generasi Melayu yang beriman, berilmu, dan beradab serta berbudaya. (Red-Rel)

0 Komentar