Opini : Faisal Akademisi STAI Panca Budi
Tarunaglobalnews.com | Benarkah perempuan berbicara 20.000 kata setiap hari, sementara laki-laki hanya 7.000 kata?Angka tersebut sudah lama beredar di media sosial dan kerap dianggap sebagai fakta ilmiah. Padahal, berbagai penelitian tidak memberikan dasar kuat untuk menjadikan angka 20.000 berbanding 7.000 sebagai ukuran biologis jumlah bicara perempuan dan laki-laki. Artinya, 20.000 kata bukanlah “jatah bicara” perempuan.
Tetapi ada persoalan yang jauh lebih penting daripada menghitung berapa banyak kata yang keluar dari mulut seseorang.
Bagaimana setiap kata itu dipertanggungjawabkan?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika yang berbicara adalah seorang pemimpin.
Sebab, ucapan seorang kepala negara tidak berhenti sebagai percakapan pribadi. Ia dapat dikutip media, disebarkan melalui media sosial, ditafsirkan masyarakat dan bahkan dibaca oleh negara lain sebagai bagian dari pesan politik Indonesia.
Dalam konteks inilah sejumlah pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menjadi perbincangan publik dalam beberapa bulan terakhir menarik untuk dilihat dari perspektif etika komunikasi dalam Islam.
Bukan untuk menghakimi pribadi Presiden. Bukan pula untuk menjadikan setiap keseleo lidah sebagai kesalahan moral. Tetapi sebagai pelajaran bahwa semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab atas setiap perkataannya.
Ketika “Rp700” Menjadi “Rp700 Ribu”
Salah satu contoh terbaru muncul dalam pidato Presiden Prabowo pada Sidang Tahunan MPR RI, 14 Agustus 2026.
Saat memperkenalkan Susanah, warga Bogor, Presiden menyebut perempuan tersebut sebagai buruh pengupas bawang dengan upah Rp700.000 per kilogram.
Pernyataan tersebut segera menjadi perhatian publik karena nominal itu dinilai tidak masuk akal.
Belakangan, sejumlah laporan menyebut Susanah sebenarnya bekerja sebagai penjahit kain majun dengan upah sekitar Rp700 per kilogram, bukan Rp700.000. Bahkan laporan AFU.ID menyebut angka dalam naskah tertulis pidato adalah Rp700, sehingga muncul dugaan adanya kekeliruan ketika angka tersebut diucapkan secara langsung (AFU.id).
Di sinilah kita melihat betapa besar pengaruh sebuah kata.
Tujuh ratus rupiah dan tujuh ratus ribu rupiah hanya berbeda beberapa kata, tetapi dampak informasinya sangat jauh.
Satu angka yang keliru dapat mengubah persepsi publik terhadap kehidupan seseorang.
Karena itu, dalam komunikasi publik, terutama komunikasi kenegaraan, verifikasi sebelum berbicara bukan sekadar persoalan teknis. Ia adalah bagian dari tanggung jawab.
Ketika Presiden Berbicara tentang Dolar
Contoh lainnya muncul ketika Presiden Prabowo berbicara di Nganjuk pada Mei 2026.
Saat itu Prabowo menanggapi kekhawatiran mengenai pelemahan rupiah dengan mengatakan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar. Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan karena dapat ditafsirkan seolah-olah persoalan nilai tukar tidak berpengaruh terhadap masyarakat desa.
(detikFinance)
Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kemudian menjelaskan bahwa konteks pernyataan tersebut adalah untuk menghibur masyarakat desa agar tidak terlalu khawatir terhadap gejolak nilai tukar.
(detikFinance)
Di sini kita belajar satu hal penting:
Satu kalimat dapat memiliki lebih dari satu tafsir.
Apa yang dimaksudkan pembicara belum tentu sama dengan apa yang ditangkap pendengar.
Karena itu, seorang pemimpin perlu menyadari bahwa komunikasi publik bukan hanya persoalan apa yang ingin dikatakan, tetapi juga bagaimana perkataan itu dipahami oleh masyarakat.
Ketika Pernyataan tentang Nuklir Menjadi Persoalan Diplomasi
Persoalan yang lebih sensitif muncul dalam Presidential Briefing bersama Kadin di Istana Negara pada 31 Juli 2026.
Dalam bagian pidatonya, Prabowo berbicara mengenai eskalasi konflik Timur Tengah dan menyebut adanya klaim bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir. Ia kemudian memperkirakan bahwa apabila Arab Saudi mengembangkan senjata nuklir, negara-negara lain seperti Uni Emirat Arab, Qatar dan Mesir dapat mengikuti.
(iNews.ID)
Bagian tersebut kemudian tidak muncul dalam rekaman resmi yang diunggah ulang.
Peristiwa ini memunculkan perdebatan publik mengenai penyuntingan rekaman pidato dan dampaknya terhadap persepsi mengenai posisi diplomatik Indonesia. Namun, hingga pemberitaan yang tersedia, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan motif penyuntingan tersebut. �
Jakarta News
Pelajarannya justru lebih luas.
Ucapan seorang kepala negara dapat dibaca lebih dari sekadar ucapan.
Ketika seorang presiden berbicara tentang isu nuklir, perang, Iran atau negara lain, kalimat tersebut dapat memiliki konsekuensi diplomatik.
Karena itu, kata-kata seorang pemimpin harus semakin terukur.
Islam Sudah Mengingatkan Jauh Sebelum Era Media Sosial
Di sinilah ajaran Islam memberikan pedoman yang sangat relevan.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
QS. Qaf: 18
Ayat ini tidak mengatakan bahwa manusia hanya boleh mengucapkan sekian ribu kata.
Tidak ada angka 7.000.
Tidak ada angka 20.000.
Yang ditekankan adalah pertanggungjawaban atas ucapan.
Setiap perkataan dicatat.
Maka semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula dampak dari perkataannya.
Jika seorang warga biasa salah mengucapkan satu kata, mungkin hanya beberapa orang yang mendengar.
Tetapi jika seorang presiden salah mengucapkan angka, istilah, nama negara atau informasi tertentu, perkataan tersebut dapat menjadi berita nasional dan internasional.
Di situlah amanah lisan menjadi semakin berat.
Pemimpin Tidak Harus Selalu Sempurna, tetapi Harus Berhati-hati
Kita juga perlu adil.
Manusia bisa salah.
Presiden pun manusia.
Keseleo lidah dapat terjadi.
Salah membaca angka dapat terjadi.
Salah menyebut istilah dapat terjadi.
Karena itu, Islam tidak mengajarkan kita untuk menjadikan setiap kesalahan ucapan sebagai alasan untuk menghina seseorang.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.”
QS. Al-Hujurat: 11
Tetapi mengakui bahwa manusia dapat salah bukan berarti kita mengabaikan pentingnya kehati-hatian.
Justru karena manusia bisa salah, maka perlu ada:
verifikasi,
tabayyun,
koreksi,
klarifikasi,
dan tanggung jawab.
Dalam Islam, konsep tabayyun sangat penting.
Allah SWT berfirman:
“Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”
QS. Al-Hujurat: 6
Pesan ini semakin relevan di era ketika satu potongan video dapat menyebar dalam hitungan menit.
Jangan Jadikan Slip of Tongue sebagai Senjata Politik
Di era media sosial, kesalahan ucapan sering dipotong menjadi beberapa detik.
Kemudian diberi judul.
Diberi musik.
Diberi komentar.
Dibagikan ribuan kali.
Akhirnya, konteks hilang dan yang tersisa hanya potongan kalimat.
Di sinilah masyarakat juga memiliki tanggung jawab.
Jika seorang pemimpin salah mengucapkan sesuatu, jangan langsung mengubahnya menjadi fitnah.
Jika sebuah video viral, jangan langsung percaya.
Jika ada informasi yang tampak janggal, jangan buru-buru menyebarkannya.
Periksa dahulu.
Sebab menjaga lisan bukan hanya berlaku ketika kita berbicara.
Dalam era digital, mengetik, membagikan, mengomentari dan menyebarkan informasi juga merupakan bentuk penggunaan lisan secara digital.
Jari dapat menjadi “lisan” baru.
Rasulullah: Berkata Baik atau Diam
Rasulullah SAW memberikan prinsip yang sangat sederhana:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadis ini berlaku bagi rakyat maupun pemimpin.
Berlaku bagi perempuan maupun laki-laki.
Berlaku bagi pejabat maupun masyarakat biasa.
Berlaku di mimbar masjid maupun di media sosial.
Berlaku ketika berbicara di depan jutaan orang maupun ketika menulis komentar kepada satu orang.
Berkata baik.
Jika tidak mampu, diam.
Tetapi diam bukan berarti membiarkan kesalahan.
Ketika terjadi kekeliruan, yang dibutuhkan adalah klarifikasi yang jujur dan proporsional, bukan caci maki.
Semakin Tinggi Jabatan, Semakin Berat Amanah Lisan
Seorang pemimpin memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada masyarakat biasa.
Karena itu, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk berhati-hati dalam berbicara.
Bukan karena seorang pemimpin harus menjadi manusia tanpa kesalahan.
Tetapi karena satu perkataannya dapat menggerakkan banyak manusia.
Satu kalimat tentang ekonomi dapat memengaruhi persepsi pasar.
Satu kalimat tentang kelompok masyarakat dapat memengaruhi opini publik.
Satu kalimat tentang negara lain dapat memengaruhi hubungan diplomatik.
Dan satu kalimat tentang seseorang yang hidup dalam kemiskinan dapat memengaruhi cara masyarakat melihat kehidupan orang tersebut.
Maka, lisan seorang pemimpin bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah bagian dari amanah kekuasaan.
Bukan 20.000 Kata yang Harus Kita Takutkan
Pada akhirnya, perdebatan mengenai perempuan berbicara 20.000 kata dan laki-laki 7.000 kata seharusnya tidak membawa kita kepada stereotip tentang siapa yang lebih banyak bicara.
Ada persoalan yang jauh lebih penting.
Apakah kata-kata kita benar?
Apakah kata-kata kita bermanfaat?
Apakah kata-kata kita menyakiti orang lain?
Apakah kata-kata kita dapat dipertanggungjawabkan?
Dan bagi seorang pemimpin:
Apakah kata-kata itu dapat dipertanggungjawabkan bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Allah SWT?
Presiden Prabowo tentu bukan satu-satunya tokoh publik yang pernah menghadapi kontroversi akibat ucapan. Setiap pejabat, politisi, tokoh agama, akademisi, jurnalis, influencer bahkan masyarakat biasa dapat mengalami hal serupa.
Karena itu, tulisan ini bukan tentang menyerang seorang presiden.
Ini tentang mengingatkan kita semua bahwa lisan adalah amanah.
Presiden perlu berhati-hati.
Menteri perlu berhati-hati.
Ulama perlu berhati-hati.
Jurnalis perlu berhati-hati.
Influencer perlu berhati-hati.
Dan kita sebagai masyarakat pun harus berhati-hati.
Sebab di hadapan Allah, tidak ada ucapan yang benar-benar hilang.
Bukan 20.000 kata yang harus kita takutkan.
Tetapi satu kata yang salah.
Satu fitnah yang tersebar.
Satu tuduhan tanpa dasar.
Satu informasi yang tidak diverifikasi.
Satu hati yang terluka karena ucapan kita.
Dan pada akhirnya, satu per satu kata yang kita ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban.
Maka, sebelum berbicara, berpikirlah.
Sebelum mengetik, periksalah.
Sebelum membagikan, tabayyunlah.
Dan sebelum menyakiti seseorang dengan perkataan, ingatlah bahwa Allah SWT mendengar dan malaikat mencatat.
Berkatalah yang baik, sampaikan yang benar, dan jika tidak mampu memberi manfaat diam adalah pilihan yang mulia.

0 Komentar