Tarunaglobalnews.com Batu Bara – Niat hati ingin melepas penat dengan deru ombak, para wisatawan di Pantai Jono, Kabupaten Batu Bara, justru pulang dengan hati dongkol. Destinasi yang dulunya primadona ini mendadak viral di media sosial setelah sejumlah pengunjung membongkar praktik "harga selangit" yang dianggap tidak masuk akal.
Fenomena tiket ganda dan biaya parkir "getok harga" ini memicu gelombang protes. Pengunjung mengeluhkan biaya yang membengkak jauh dari tarif normal, membuat slogan wisata ramah kantong di Batu Bara seketika sirna.
Menanggapi kegaduhan tersebut, Direktur Bumdes sekaligus pengelola Pantai Jono, Ok Irwansyah, saat dikonfirmasi awak media ini melalui telepon selulernya mengatakan, Ia tidak menampik adanya ketidakteraturan di lapangan, namun ia menegaskan bahwa hal tersebut adalah ulah oknum yang melanggar instruksi.
"Kalau ada pekerja yang main harga, saya siap cabut bet-nya dan tidak saya pekerjakan lagi. Saya tegakkan aturan!" tegas Ok Irwansyah. Rabu (25/3/2026).
Agar tidak menjadi korban pungli, pengelola membeberkan rincian tarif resmi yang berlandaskan Peraturan Desa (Perdes) dan kesepakatan Dinas terkait :
• Tiket Masuk : Rp7.000 (Perdes) ditambah Rp3.000 (Keputusan 7 Kepala Dinas). Total resmi adalah Rp10.000 per orang.
• Parkir Mobil: Rp10.000.
• Tarif Maksimal Mobil: Untuk mobil pribadi, tarif dikunci maksimal Rp50.000 (meski penumpang lebih dari 5 orang). Jika diminta Rp60.000, itu ilegal!
• Uang Lapak: Pengelola menegaskan TIDAK ADA biaya tambahan untuk lapak.
Ok Irwansyah mengaku baru mengelola pantai tersebut selama dua bulan. Baginya, viralnya keluhan ini adalah tamparan sekaligus bahan evaluasi besar-besaran.
"Ini pengalaman pahit bagi kami. Kami akan bawa masalah ini ke rapat evaluasi. Kami ingin membangun wisata Batu Bara jangka panjang, bukan sesaat,"pungkasnya.
Di sisi lain, upaya konfirmasi kepada Kepala Desa Lalang, Syarifuddin, justru menemui jalan buntu. Hingga berita ini diturunkan, pesan singkat yang dikirimkan awak media hanya berstatus "centang dua" tanpa ada jawaban resmi.
Bungkamnya pihak desa tentu menyisakan tanda tanya besar bagi publik Sejauh mana pengawasan pemerintah setempat terhadap aset wisatanya.
Kini, bola panas ada di tangan pengelola. Apakah Pantai Jono akan berbenah dan kembali dicintai, atau justru ditinggalkan wisatawan yang terlanjur sakit hati. (Ir)


0 Komentar