Breaking News

6/recent/ticker-posts

Tutup atau Lawan!" – Rifki Muflih Rambe dan Pemuda Simalungun Ultimatum Pemerintah Terkait PT TPL

Tarunaglobalnews.com Simalungun – Gelombang kemarahan rakyat di Simalungun mencapai puncaknya. Tokoh pemuda Simalungun, Rifki Muflih Rambe, memimpin gerakan masyarakat untuk menuntut satu hal mutlak tanpa kompromi Penutupan total PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Bukan lagi sekadar evaluasi atau kajian birokrasi, Rifki menegaskan bahwa rakyat sudah muak dengan janji-janji manis di tengah kerusakan lingkungan yang semakin nyata.

"Kami adalah suara rakyat yang muak dibohongi. Waktu untuk basa-basi sudah habis. Setiap detik TPL beroperasi, kerusakan terus berjalan. Setiap hari pemerintah diam, rakyat yang menanggung akibatnya," tegas Rifki dalam pernyataan sikapnya kepada awak media ini di kota Perdagangan Rabu (7/1/2025)

Gerakan ini menyoroti bagaimana hutan yang dulunya rimbun kini gundul, dan sungai yang menjadi urat nadi kehidupan kini tercemar. Menurut Rifki, apa yang terjadi di tanah Simalungun bukanlah pembangunan, melainkan "perampokan ruang hidup" yang dilegalkan oleh lambatnya tindakan negara.

Rifki Muflih Rambe

Empat Tuntutan Harga Mati

Masyarakat tidak lagi meminta izin untuk didengar, melainkan menuntut tanggung jawab negara melalui empat poin utama:

1. Cabut izin operasional PT Toba Pulp Lestari segera.

2. Hentikan seluruh aktivitas di lapangan tanpa pengecualian.

3. Audit lingkungan secara terbuka untuk membongkar fakta yang selama ini tertutup.

4. Pulihkan hak masyarakat dan lingkungan yang telah dirusak selama puluhan tahun.

Negara Jangan Jadi Penonton

Kritik tajam pun diarahkan langsung kepada Pemerintah Pusat hingga Daerah. Rifki menilai negara selama ini lebih sibuk melindungi investasi daripada nyawa dan ruang hidup rakyatnya sendiri.

"Jika pemerintah memilih diam, maka diam itu adalah bukti keberpihakan pada perusak lingkungan. Kami tidak takut, dan kami tidak akan mundur," lanjutnya.

Pesan ini menjadi sinyal kuat bahwa eskalasi massa akan terus meningkat jika tuntutan ini diabaikan. Bagi masyarakat Simalungun, keberadaan PT TPL bukan lagi soal ekonomi, melainkan soal keberlangsungan hidup generasi mendatang.

Kini bola panas ada di tangan pemerintah. Akankah negara hadir sebagai pelindung rakyat, atau tetap menjadi penonton di tengah kehancuran lingkungan?

TUTUP TPL. SELAMATKAN LINGKUNGAN. NEGARA JANGAN JADI PENONTON.

(Ir)


Posting Komentar

0 Komentar